Sejarah PERSIB

Posted by

!– wp:paragraph –>

Persib Bandung memiliki sejarah panjang hingga menjadi klub kebanggaan warga Jawa Barat. Berikut 15 sejarah dari masa ke masa. 

Persib didirikan pada 14 Maret 1933. Bermain di Liga 1 2018, mereka finis di posisi keempat. 

Persib didukung oleh fans fanatik, Bobotoh. Aksi Bobotoh di Stadion Gelora Bandung lautan Api (GBLA) menodai laju Persib musim ini. Juga berimbas kepada Persib yang harus menjalani laga usiran. 

 

Baca juga: 5 Sejarah Tim Sepakbola yang Ditangani Polri, Bhayangkara FC

Berikut 15 sejarah Persib Bandung dari masa ke masa.

1. Awal Berdiri

Bandung memiliki Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB), yang didirikan pada 1923. Perkumpulan sepakbola itu menjadi alat perjuangan. 

BIVB diketuai Ketua Umum Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pahlawan nasional, Dewi Sartika, R. Atot.

BIVB bermarkas di lapangan Tegallega, Bandung. Tim BIVB beberapa kali mengadakan pertandingan di luar kota seperti Yogyakarta, Jatinegara, dan Jakarta.

Dalam prosesnya, BIVB menghilang. Kemudian, muncul dua perkumpulan sepakbola, yaitu Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetball Bond (NVB).

BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain; Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetball Bond (NVB). 

Nah, pada 14 Maret 1933 kedua klub itu sepakat melebur dan lahirlah perkumpulan baru yang bernama Persib. Waktu itu, Anwar St. Pamoentjak dipercaya sebagai ketua umum. 

Klub-klub yang bergabung ke dalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi. Setelah tampil tiga kali sebagai runner up pada Kompetisi Perserikatan 1933 (Surabaya), 1934 (Bandung), dan 1936 (Solo), Persib mengawali juara pada Kompetisi 1939 di Solo. 

2. Merebut Hati Warga Bandung

Pada awal tahun 1937 berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori orang-orang Belanda, yakni Voetbal Bond Bandung dan Omstreken (VBBO). Perkumpulan ini saingan Persib. Lokasi pertandingan VBBO dilakukan dalam Kota Bandung dan dianggap lebih bergengsi. 

Klub itu berbeda dengan Persib yang bertanding di pinggiran Bandung, seperti Tegallega dan Ciroyom. Hal ini menyebabkan Persib kerap dipandang rendah dan disebut sebagai perkumpulan kelas dua.

Meski demikian, klub yang disebut Maung Bandung ini lebih merebut hati warga Bandung dan menegaskan diri sebagai perkumpulan sepak bola satu-satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Klub-klub yang bernaung di bawah VBBO seperti UNI dan SIDOLIG, akhirnya bergabung ke Persib.

Bahkan VBBO kemudian menyerahkan lapangan yang biasa mereka gunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG (kini Stadion Persib), dan Lapangan SPARTA (kini Stadion Siliwangi). Persib pun semakin eksis di Bandung.

 

Baca juga: Simon McMenemy Tepis Rumor Menuju Persib Bandung

3. Sempat Vakum

Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang, kegiatan persepakbolaan yang dinaungi organisasi dihentikan dan organisasinya dibredel. Persib pun akhirnya vakum.

Namun setelah Indonesia merdeka, Persib kembali eksis. Persib tidak hanya eksis di Bandung, melainkan di Tasikmalaya, Sumedang, dan Yogyakarta. Pada masa itu, prajurit-prajurit Siliwangi hijrah ke ibu kota perjuangan Yogyakarta.

4. Persib Didirikan Kembali

Persib kembali berdiri di Bandung pada tahun 1948. Tapi keberadaan Persib dirongrong Belanda (NICA) yang kembali datang. Mereka ingin menghidupkan lagi VBBO dengan nama berbahasa Indonesia.

Pada masa pendudukan NICA itu, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. Alexa, dan Rd. Sugeng. Usaha itu berhasil dan di Bandung hanya ada Persib, perkumpulan sepak bola berlandaskan nasionalisme.

5. Memiliki Kantor Sekretariat

Persib mengakhiri masa nomaden kantor sekretariat pada periode 1953-1957. Wali Kota Bandung saat itu R. Enoch membangun Sekretariat Persib di Cilentah. Kemudian atas upaya R. Soendoro, Persib berhasil memiliki kantor sekretariat di jalan Gurame. Kantor itu sampai sekarang masih berada.

6. Juara

Persib menjadi juara perserikatan pada 1961 setelah mengalahkan PSM Ujung Pandang di final. Karena prestasinya itu, Persib ditunjuk mewakili PSSI di ajang kejuaraan sepakbola Piala Aga Khan di Pakistan pada 1962.

7. Masa Sulit

Tahun 70-an, Persib Bandung mengalami masa sulit dan karena gelar sulit didapatkan. Terburuk, saat Kompetisi Perserikatan 1978-1979 dengan Persib terdegradasi ke Divisi I.

Revolusi pembinaan dilakukan seperti mempersiapkan tim junior yang ditangani pelatih Marek Janota dari Polandia. Kemudian, tim senior dipimpin Risnandar Soendoro. Gabungan pemain junior dan senior ini membuahkan hasil karena Persib berhasil promosi ke Divisi Utama dengan materi pemain seperti Sobur, Giantoro, Kosasih B, Adeng Hudaya, Encas Tonif, dan lainnya.

Akhirnya lahirlah bintang-bintang Persib seperti Robby Darwis, Adeng Hudaya, Adjat Sudrajat, Suryamin, Dede Iskandar, Boyke Adam, Sobur, Sukowiyono, dan Iwan Sunarya. Hasil binaan Marek membawa Persib lolos ke final bertemu PSMS pada Kompetisi Perserikatan 1982-1983 dan 1984-1985.

Dua kali Persib harus puas sebagai runner-up setelah kalah adu penalti. Pertandingan final 1984-1985 mencatat rekor penonton karena membeludak hingga pinggir lapangan. Dari kapasitas 100.000 tempat duduk di Stadion Senayan, jumlah penonton yang hadir mencapai 120 ribu orang.

8. Tahun 1986-1990

Pada Kompetisi Perserikatan 1986, Persib yang ditangani pelatih Nandar Iskandar meraih juara setelah di final mengalahkan Perseman Manokwari 1-0 melalui gol tunggal Djadjang Nurdjaman, di Stadion Senayan. Persib kembali meraih gelar juara pada Kompetisi 1990 setelah mengalahkan Persebaya, 2-0, melalui gol bunuh diri Subangkit dan Dede Rosadi.

9. Raih Piala Presiden Selamanya

Pada kompetisi penutup Perserikatan 1993-1994, Persib meraih gelar juara setelah di final mengalahkan PSM, 2-0, melalui gol Yudi Guntara dan Sutiono Lamso. Persib berhak membawa pulang Piala Presiden untuk selamanya. Kompetisi berikutnya berubah nama menjadi Liga Indonesia, yang pesertanya dari tim-tim Galatama dan Perserikatan.

10. Masuk Final Liga Indonesia

Persib berhasil menggenggam trofi juara dalam kompetisi Liga Indonesia. Persib menaklukkan Petrokimia Putra dengan skor 1-0 melalui gol Sutiono Lamso menit ke-76.

Saat itu, Persib ditangani pelatih Indra Thohir dengan asisten Djadjang Nurdjaman dan Emen ‘Guru’ Suwarman.

11. Berpartisipasi di Piala Champions Asia

Persib berhak berpartisipasi di Piala Champions Asia (saat ini Liga Champions Asia) sebagai juara liga. Prestasi Persib cukup membanggakan Indonesia karena lolos sampai ke perempat final. Namun di kancah domestik, Persib ‘tenggelam’. Pada 2003, Persib yang awalnya konsisten dengan muatan pemain dan pelatih lokal akhirnya menggunakan jasa pelatih maupun pemain asing untuk perbaikan prestasi. Namun bukannya membaik, prestasi Persib justru memburuk. Sledzianowski diganti di tengah jalan karena Persib terseok-seok di papan bawah bahkan sempat hampir terdegradasi.

12. Klub Profesional

Persib yang awalnya merupakan perserikatan amatir akhirnya menjadi klub profesional. Hal ini setelah terbentuknya sebuah badan hukum bernama PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB) pada akhir Desember 2008.

Persib tidak lagi mendapatkan kucuran dana pengelolaan dari pemerintah, melainkan dari pengelolaan usaha di bawah naungan PT PBB. PT PBB pun menjadi salah satu pengelola klub profesional terbaik di Indonesia.

Profesionalitas membawa prestasi cukup membaik pada Kompetisi Liga Super Indonesia I/2008-2009. Untuk kali pertama Persib diracik pelatih lokal dari luar Bandung. Jaya Hartono yang membawa Persik Kediri menggondol Piala LI IX/2003 dipanggil melatih Persib. Pada era Jaya, Persib meraih peringkat tiga dalam kompetisi yang menggunakan format satu wilayah.

13. Juara Liga Super Indonesia

Persib menjadi juara Liga Super Indonesia 2014 di bawah kendali pelatih lokal, Djajang Nurdjaman. Juara ini diraih setelah puasa gelar selama 19 tahun. Persib mengalahkan Persipura Jayapura melalui adu penalti babak final yang berlangsung di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang.

Selain mempersembahkan gelar juara Liga Indonesia untuk kedua kali, Djajang juga mengukir rekor sebagai legenda hidup. Dia berhasil mengantarkan Persib menjadi juara sebagai pemain, asisten pelatih, dan pelatih kepala.

14. Juara Piala Presiden 2015

Persib Bandung tampil sebagai juara turnamen bergengsi Piala Presiden 2015. Pada babak final, tim asuhan Djadjang Nurdjaman mengalahkan Sriwijaya FC, 2-0. Namun, kegemilangan pada ajang pengisi kekosongan liga itu tidak berlanjut pada turnamen selanjutnya, Piala Jenderal Sudirman. Langkah tim yang memiliki pendukung seperti Viking Bandung ini terhenti hanya di babak fase grup karena cuma menang sekali dan menelan tiga kekalahan beruntun.

15. Tragedi GBLA

Musim 2018 menjadi musim muram bagi Persib. Tragedi di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada 23 September menewaskan suporter Haringga Sirla. Dia tewas setelah penganiayaan yang meremukkan kepalanya. 

Persib dihukum sanksi laga usiran atas kasus itu. Bobotoh juga dilarang menyaksikan langsung pertandingan Persib. Di akhir musim, Persib Bandungfinis di posisi keempat. 

 

Baca juga: Rahmad Darmawan Tertarik Tangani Persib Bandung

Simak Juga ‘Bobotoh Tumpah Ruah ke Jalan Rayakan Suksesnya Persib U-16 dan U-19’:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *