PRESIDEN klub, Maung Bandung FC, Denny Susanto, memperlihatkan surat PSSI di kantornya, Rabu (10/4/2019).

Regulasi PSSI No 01/IV/2019, Matikan Karir Pemain

Posted by

MAUNGBANDUNG.NET – Ribuan pemain akan mati karirnya menyusul regulasi baru yang diterbitkan oleh PSSI untuk kompetisi Liga 3 tahun ini. Pada surat keputuan bernomor 01/IV/2109 tentang ketentuan umum Liga 3/2019 menyebutkan bahwa usia pemain yang boleh berkompetisi di Liga 3 adalah kelahiran 1 Januari 1997 hingga 1 Januari 2001 tanpa pemain senior.

Ini artinya, semua pemain yang diperbolehkan tampil rata-rata harus berusia 22 tahun. Sedangkan, usia diatasnya secara gamblang tidak diperbolehkan. Dengan resgulasi tersebut jelas, ribuan pemain diatas usia 22 tahun di level Liga 3 akan terhenti karirnya.

Presiden Direktur Maung Bandung FC dan Tim Liga 3 Banten Duta FC, Denny Susanto, memebnerkan bahwa regulasi tersebut berdampak buruk karena mematikan lahan pekerjaan ribuan pemain senior. Pasalnya, selain Liga 3, tidak semua pemain di atas 23 tahun itu bisa dapat kesempatan bermain di Liga 2 atau Liga 1.

“Pada tahun 2018 lalu peserta Liga 3 mencapai 300 hingga 400 klub di seluruh Indonesia lalu jika dikali tiga pemain senior pada setiap klub, maka 1.200 pemain di atas usia 23 tahun itu akan terbunuh karirnya karena pemain senior yang bermain di tahun lalu (2018) sudah pasti tidak bisa main di tahun 2019 karena keputusan yang sadis dari PSSI itu,” tandas Denny di kantornya, Rabu (10/4/2019).

Denny mengaku tidak habis pikir oleh PSSI karena tanpa pertimbangan dan sosialisasi mengeluarkan regulasi tidak manusiawi. Bayangkan, kata Denny, dengan jumlah peserta Liga 2 yang hanya 23 tim ditambah Liga 1 dengan 18 tim apakah bisa menampung pemain seniiga 2 aau Liga 1, karena kita tahu ketatnya persaingan. Apalagi, untuk bisa bermain di Liga 1 persaingan akan dihadapi dengan tiga pemain asing (satu Asia dan dua nonAsia) kecuali yang nasibnya bagus direkrut oleh klub yang membutuhkannya,” katanya.

Karena itu, lanjutnya, bagi pemain usia 23 tahun keatas yang kalah bersaing dan kurang beruntung bermain di Liga 1 maupun Liga 2 akan kemana wadahnya.” Terus terang, kami selaku pemilik klub dirugikan karena kami sudah mengontrak pemain-pemain usia 23 tahun keatas dengan durasi panjang kalau kondisnya seperti ini kami tidak tega untuk memutus kontraknya, kasihan mereka karena keputusan itu,”cetus Denny.

Denny menilai, PSSI era sekarang bukan saja tidak tahu cara pembinaan dan mengurus sepakbola. “Tetapi mereka tidak mengerti dan tidak tahu soal pembinan pemain muda, justru di usia 23 ke atas itulah masa-masa emas pemain sedang tumbuh pesat, tapi sekarang mereka yang berusia U-22 keatas tak boleh lagi bermain di Liga 3 karena sikap PSSI sekarang yang tidak memberi ruang bagi mereka,” katanya.

Jadi kata Denny, apa yang telah diputuskan PSSI dengan regulasi tersebut, merupakan sebuah kemunduran baik pembinaan maupun untuk menuju kemajuan sepakbola Indonesia.

“Bagaimana sepakbola Indonesia mau maju, bagaimana mau mendapatkan pemain handal, mencetak pemain handal itu kan dari tingkat bawah dulu, main di Liga 3 dengan usia muda, lalu naik ke Liga 2 dan Liga 1 nah sebelum naik ke tingkat lebih atas mereka mendapatkan pengalamannya darimana, kan dari level bawah dalam hal ini Liga 3. ini jelas sebuah kemunduran bagi sepakbola kita, dan ketidak tahuan pengurus PSSI sekarang terhadap sistem pembinaan karena dampak dari itu ribuan pemain diatas U-23 tidak boleh dimainkan sebagai pemain tambahan, dulu boleh main sebanyak tiga orang, bahkan, di tahun 2017 bisa sampai lima pemain, ” papar Denny.

Denny mengaku, sistem kompetisi dan pembinaan di liga amatir sudah bagus dan cukup realistis di era kepengurusan yang lalu-lalu. Dia pun tak segan untuk memuji jenjang kompetisi yang digulirkan PSSI Pusat era Nurdin Halid dimana pada saat itu, penentuna usia sangat teratur.

“Tapi oleh pengurus sekarang justru aturan yang sudah bagus dirubah, dilabrak dan duganti oleh keputusan yang dapat merugikan orang lain, apakah dengan cara seperti itu akan didapat pemain untuk ke profesional, paling tidak cuma satu dua. Saya yakin, ini keputusan yang dibuat oleh pengurus yang tidak mengerti terutama sistem pembinaan, itulah kalau kepengurusan tidak dikelola oleh orang yang bukan praktisi dan berlatar belakang sepakbola,” kata Denny.

Kondisi yang sama dirasakan oleh Asosiasi Sepakbola Kabupaten maupun Kota serta klub di daerah. Seperti yang dialami oleh Persima Majalengka. Mereka menilai bahwa PSSI Pusat tidak memperdulikan kepentingan di daerah.

“Kebijakan itu terkesan mendadak dan tidak mempertimbangkan dampaknya, seharusnya sebelum diambil keputusan terlebih dahulu disosialisasikan. Kami punya banyak pemain diatas 23 , taoi dengan keputusan itu, selanjutnya mau dikemanakan mereka jika karena kebanykan mereka sudah tidak punya klub, jangankan main di Liga 2 dan Liga 1 dilirik juga tidak, ini harus jadi pemikiran kalau memaksakan keputusan itu,” tegas Asep. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *